Kamis, 06 Oktober 2016

FROM BOTTLE TRASH BRING LUCKY



Aku terlahir di kota yang banyak orang mengatakan “Dibawah minyak, diatas minyak”, ya... yang berarti “Didalam tanah yang begitu subur terdapat minyak bumi yang tersebar luas didaerah tempat saya lahir dan daerah sekelilingnya. Dan ditumbuhi pepohonan yang ber-ratus juta hektar jumlah yang dimiliki para “toke sawit” yaitu Kota Pekanbaru. Dan memiliki jarak tempuh sekitar 1jam 45menit lamanya dengan menggunakan kapal terbang. Aku baru dari pendidikan SMA dan memberanikan diriku untuk mencari kehidupanku.
            Merantau emang akan menjadi pengalaman pertamaku, meninggalkan kota kelahiran demi mengadu nasib. Dan juga menjadi pengalaman pertama ketika memberikan cap kakiku ke Ibukota Jakarta tanpa dampingan siapapun. Suasana baru bagiku yang penuh dengan hiruk pikuk Kota Jakarta, kebisingannya dengan berbagai masalah membuat jiwa menjadi tertekan dan hanya berdiam diri melototi setiap sudut, ruang, Kota Metropolitan ini. Dengan sedikit semangat dan perasaan was-was, aku berjalan setapak demi setapak pada pinggir jalan utama dengan begitu banyaknya sampah botol air mineral ada saja disetiap sudut. Berjalan sembari memperhatikan mobil mewah milik manusia yang diberi hikmat yang lebih oleh Tuhan Yang Maha Esa, mataku sentak terkejut botol air mineral yang jatuh di depanku dan segera mencari arah darimana botol air mineral itu, kudapati salah satu mobil mewah yang sedang menutup jendela mobilnya setelah tangannya masuk kedalam.
Aku tapaki jalan jalan Kota Jakarta, tak hanya satu yang ku dapati mobil yang melempar sampah makanan, dan botol air mineralnya, tanpa mencintai lingkungan, alam, yang memberinya tempat tinggal, udara, bahkan tempatnya mencari 1000, 2000 yang terkumpul untuk membeli mobil mewahnya tersebut. Aku pindahkan arah pandangan mataku kepada segerombolan sepeda motor yang merayap membuatku merasa sesak. Terlihat para pengendara sepeda motor yang merasa dahaga karena panasnya cuaca Jakarta lalu membuka botol air mineral  mereka dan meneguknya hingga habis dan bertambah lagi mereka yang tidak mencintai lingkungannya, keindahan kotanya dengan membuang botol air mineral mereka dengan sembarangan. “Ah sudahlah...” gumamku. Karena aku emang tidak terbiasa memandang yang seperti itu.
Sang surya mulai terbenam, menyembunyikan cahayanya dari langit Kota Jakarta. Aku bergegas mencari tempat beristirahatku malam ini sesuai dengan isi dompetku. Ku temui sebuah home stay sederhana, ku pesan lalu masuklah aku ke kamar yang  telah ditunjuk. Mataku tertuju pada sebuah botol air mineral yang masih tersegel bagus, lalu aku buka dan meminumnya karena memang sudah haus. Aku memandangi botol air mineral yang ku genggam sembari menelan sedikit demi sedikit tegukan terakhirku lalu aku letak kembali botol itu. Aku merebahkan badan dan jatuh pada lamunanku dan tertidur.
            Pukul 04.12 WIB aku terbangun  dalam posisi menghadap pada botol air mineralku yang tersisa setengah. Aku duduk dan meraihnya lalu meminumnya hingga habis. Ku gerakkan jemariku memutar botol air mineral itu, jariku berhenti memutarnya dan mataku tertuju pada tulisan “Bekasi – Indonesia” karena aku emang tidak memiliki tujuan kemana akan pergi, aku memberanikan diri untuk pergi kesana, aku menyimpan botol itu dalam tasku. Aku mempersiapkan diri untuk berangkat. Tepat pukul 06.00 aku check out dan mbak resepsionis itu menyuruhku mengambil sebungkus roti dan sebotol air mineral, sebelum pergi aku bertanya pada mbak resepsionis homestay tempatku menginap kemana aku akan pergi agar dapat sampai di Bekasi.
            Sesampainya di Stasiun Kota sesuai petunjuk mbak resepsionis tadi, kupandangi rute perjalanan KRL Jakarta Kota – Bekasi. Perjalanan sengaja aku lakukan pagi  hari karena aku sama sekali tidak punya bayangan  bagaimana kesibukan  kereta ini sehari hari sesuai dengan pegetahuanku dari berita di TV yang pernah aku tonton. Aku mengambil rute Jakarta Kota – Bekasi  pukul 07.30 pagi, melawan arah commuter dan asumsi “kalau pagi-pagi nggak banyak orang berpergian kearah luar Jakarta. Suasana cukup ramai, aku duduk menunggu sambil memakan roti dan minum air mineral tadi, setelah habis aku menyimpan botol air mineral tersebut. Waktu tepat pukul 07.31 saat pengumuman dari pengeras suara KRL Bekasi telah mendapat lampu hijau dan berangkat. Aku melayangkan pandangan ku ke jendela dan berpikir “Kenapa aku jadi terobsesi dengan botol air mineral ya? Begitu sampai di Jakarta banyak sampah salah satunya botol air mineral, dilempar botol mineral, melihat pengendara sepeda motor buang botol air mineral, sampai homestay pertama kali keliatan di kamar botol mineral, aku ke Bekasi karena botol air mineral” aku tertidur.
            Sesampai di Bekasi aku akan menaiki angkot ketika menginjakkan kaki ku, aku terpeleset karena ada botol air mineral kosong karena aku tidak melihat langkah ku, ku ambil botol air mineral itu dengan muka malu karena bunyi jatuhku sangat kuat dan orang banyak pada memperhatikanku. “Sial!” kataku kesal dalam hati sambil mencoba naik ke angkot lagi dengan hati-hati. “Mau kemana kang?” tanya supir angkot, “Jalan aja dulu bang” balasku. Setelah panjang perjalanan, penumpang sudah berganti 3 kali aku masih tetap dalam angkot. “Kang mau kemana nih?” tanya supir angkot lagi dengan muka was-was melihat ke arahku. “Turun disini aja dah kang naik angkot lain saja lagi” kata supir angkot ini lagi dengan sedikit nada keras. “Yaudah bang kiri kiri” kataku, dan memberikan uang angkot.
Aku berjalan tanpa tujuan, panas terik menyerang. Aku merasa haus lalu mencari kedai kedai kecil pinggir jalan. Setelah aku dapatkan aku minum hingga habis, tiba-tiba aku teringat pada botol air mineral yang telah membuatku jatuh tadi, merasa kesal aku jatuhkan botol air mineral yang baru saja aku habis kan lalu menendangnya, jalan lagi, tendang lagi, maju lagi, tendang lagi, sontak aku ambil botol tadi dan mengeluarkan semua botol botol yang telah aku kumpul dalam tas, terkumpul 4 botol dengan merk yang sama. Sambil berjalan terus sembari memperhatikan botol-botol ini, yaaa keliatan seperti orang gak “normal”. Masih dalam perasaan kesal, ditambah gak ada tujuan aku menghempaskan keempat botol air mineral itu lalu menendangnya satu persatu dan keempatnya mengarah pada lelaki berpakaian jas rapi dengan mobil mewah dan salah satunya mengenai laki-laki itu. Aku memalingkan wajahku kebelakang agar orang itu tak mengetahui bahwa aku yang menendangnya. Tetapi lelaki itu memanggilku, aku tidak menolehnya bahkan makin berlari cepat, lelaki tersebut tetap mengejarku, akupun memperlambat jalanku dan ingin minta maaf. Karna di Indonesia hal sepele bisa bikin masuk penjara. Wkwk *ganyambung*. Aku langsung minta maaf kepada lelaki itu kira-kira umur 25 tahun, lalu lelaki itu memegang pundakku dan bertanya “Kenapa botol-botol yang kamu kumpulkan itu kamu buang lagi? Kenapa dalam merk yang sama? Kamu pemulung?” Tanya lelaki itu dengan raut wajah heran. Mungkin karena penampilanku yang kelihatan bukan seperti pemulung. Belum aku menjawab semua pertanyaannya lelaki itu mengajakku naik ke mobil mewahnya, dan aku meng-iyakannya. Lalu kami bercerita kenapa aku bisa sampai di planet Bekasi ini hehehe.

Setelah aku bercerita, diapun juga menceritakan dirinya. Ternyata laki-laki ini merupakan cucu dari penggagas industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia PT. Golden Mississippi yaitu Bapak Tirto Utomo (1930-1994). Pabrik AMDK pertama di Bekasi dan sudah menjadi produk terkenal yaitu Aqua yang sekarang telah bergabung dengan grup Danone yaitu AQUA. Aqua merupakan pabrik AMDK terbesar dan terkenal di Indonesia. Banyak kegiatan kemanusiaan yang telah dilakukan, sehingga mendapat penghargaan di Ajang Indonesia Best Brand Award.
Akhirnya, laki-laki ini menawarkan aku untuk bekerja di perusahaannya. Aku mendapat perkerjaan yang dikatakan layak untuk aku yang tak sengaja mengenainya saat aku menendang botol-botol aku kosong yang aku kumpulkan.