Aku terlahir
di kota yang banyak orang mengatakan “Dibawah minyak, diatas minyak”, ya...
yang berarti “Didalam tanah yang begitu subur terdapat minyak bumi yang
tersebar luas didaerah tempat saya lahir dan daerah sekelilingnya. Dan
ditumbuhi pepohonan yang ber-ratus juta hektar jumlah yang dimiliki para “toke
sawit” yaitu Kota Pekanbaru. Dan memiliki jarak tempuh sekitar 1jam 45menit
lamanya dengan menggunakan kapal terbang. Aku baru dari pendidikan SMA dan
memberanikan diriku untuk mencari kehidupanku.
Merantau emang akan menjadi
pengalaman pertamaku, meninggalkan kota kelahiran demi mengadu nasib. Dan juga
menjadi pengalaman pertama ketika memberikan cap kakiku ke Ibukota Jakarta
tanpa dampingan siapapun. Suasana baru bagiku yang penuh dengan hiruk pikuk
Kota Jakarta, kebisingannya dengan berbagai masalah membuat jiwa menjadi
tertekan dan hanya berdiam diri melototi setiap sudut, ruang, Kota Metropolitan
ini. Dengan sedikit semangat dan perasaan was-was, aku berjalan setapak demi
setapak pada pinggir jalan utama dengan begitu banyaknya sampah botol air
mineral ada saja disetiap sudut. Berjalan sembari memperhatikan mobil mewah
milik manusia yang diberi hikmat yang lebih oleh Tuhan Yang Maha Esa, mataku
sentak terkejut botol air mineral yang jatuh di depanku dan segera mencari arah
darimana botol air mineral itu, kudapati salah satu mobil mewah yang sedang
menutup jendela mobilnya setelah tangannya masuk kedalam.
Aku tapaki
jalan jalan Kota Jakarta, tak hanya satu yang ku dapati mobil yang melempar
sampah makanan, dan botol air mineralnya, tanpa mencintai lingkungan, alam,
yang memberinya tempat tinggal, udara, bahkan tempatnya mencari 1000, 2000 yang
terkumpul untuk membeli mobil mewahnya tersebut. Aku pindahkan arah pandangan
mataku kepada segerombolan sepeda motor yang merayap membuatku merasa sesak.
Terlihat para pengendara sepeda motor yang merasa dahaga karena panasnya cuaca
Jakarta lalu membuka botol air mineral
mereka dan meneguknya hingga habis dan bertambah lagi mereka yang tidak
mencintai lingkungannya, keindahan kotanya dengan membuang botol air mineral
mereka dengan sembarangan. “Ah sudahlah...” gumamku. Karena aku emang tidak
terbiasa memandang yang seperti itu.
Sang surya
mulai terbenam, menyembunyikan cahayanya dari langit Kota Jakarta. Aku bergegas
mencari tempat beristirahatku malam ini sesuai dengan isi dompetku. Ku temui
sebuah home stay sederhana, ku pesan lalu masuklah aku ke kamar yang telah ditunjuk. Mataku tertuju pada sebuah
botol air mineral yang masih tersegel bagus, lalu aku buka dan meminumnya
karena memang sudah haus. Aku memandangi botol air mineral yang ku genggam
sembari menelan sedikit demi sedikit tegukan terakhirku lalu aku letak kembali
botol itu. Aku merebahkan badan dan jatuh pada lamunanku dan tertidur.
Pukul 04.12 WIB aku terbangun dalam posisi menghadap pada botol air
mineralku yang tersisa setengah. Aku duduk dan meraihnya lalu meminumnya hingga
habis. Ku gerakkan jemariku memutar botol air mineral itu, jariku berhenti
memutarnya dan mataku tertuju pada tulisan “Bekasi – Indonesia” karena aku
emang tidak memiliki tujuan kemana akan pergi, aku memberanikan diri untuk
pergi kesana, aku menyimpan botol itu dalam tasku. Aku mempersiapkan diri untuk
berangkat. Tepat pukul 06.00 aku check out dan mbak resepsionis itu menyuruhku
mengambil sebungkus roti dan sebotol air mineral, sebelum pergi aku bertanya
pada mbak resepsionis homestay tempatku menginap kemana aku akan pergi agar
dapat sampai di Bekasi.
Sesampainya di Stasiun Kota sesuai
petunjuk mbak resepsionis tadi, kupandangi rute perjalanan KRL Jakarta Kota –
Bekasi. Perjalanan sengaja aku lakukan pagi
hari karena aku sama sekali tidak punya bayangan bagaimana kesibukan kereta ini sehari hari sesuai dengan
pegetahuanku dari berita di TV yang pernah aku tonton. Aku mengambil rute Jakarta
Kota – Bekasi pukul 07.30 pagi, melawan
arah commuter dan asumsi “kalau pagi-pagi nggak banyak orang berpergian kearah
luar Jakarta. Suasana cukup ramai, aku duduk menunggu sambil memakan roti dan
minum air mineral tadi, setelah habis aku menyimpan botol air mineral tersebut.
Waktu tepat pukul 07.31 saat pengumuman dari pengeras suara KRL Bekasi telah
mendapat lampu hijau dan berangkat. Aku melayangkan pandangan ku ke jendela dan
berpikir “Kenapa aku jadi terobsesi dengan botol air mineral ya? Begitu sampai
di Jakarta banyak sampah salah satunya botol air mineral, dilempar botol
mineral, melihat pengendara sepeda motor buang botol air mineral, sampai
homestay pertama kali keliatan di kamar botol mineral, aku ke Bekasi karena
botol air mineral” aku tertidur.
Sesampai di Bekasi aku akan menaiki
angkot ketika menginjakkan kaki ku, aku terpeleset karena ada botol air mineral
kosong karena aku tidak melihat langkah ku, ku ambil botol air mineral itu
dengan muka malu karena bunyi jatuhku sangat kuat dan orang banyak pada
memperhatikanku. “Sial!” kataku kesal dalam hati sambil mencoba naik ke angkot
lagi dengan hati-hati. “Mau kemana kang?” tanya supir angkot, “Jalan aja dulu
bang” balasku. Setelah panjang perjalanan, penumpang sudah berganti 3 kali aku
masih tetap dalam angkot. “Kang mau kemana nih?” tanya supir angkot lagi dengan
muka was-was melihat ke arahku. “Turun disini aja dah kang naik angkot lain
saja lagi” kata supir angkot ini lagi dengan sedikit nada keras. “Yaudah bang
kiri kiri” kataku, dan memberikan uang angkot.
Aku berjalan
tanpa tujuan, panas terik menyerang. Aku merasa haus lalu mencari kedai kedai
kecil pinggir jalan. Setelah aku dapatkan aku minum hingga habis, tiba-tiba aku
teringat pada botol air mineral yang telah membuatku jatuh tadi, merasa kesal
aku jatuhkan botol air mineral yang baru saja aku habis kan lalu menendangnya,
jalan lagi, tendang lagi, maju lagi, tendang lagi, sontak aku ambil botol tadi
dan mengeluarkan semua botol botol yang telah aku kumpul dalam tas, terkumpul 4
botol dengan merk yang sama. Sambil berjalan terus sembari memperhatikan
botol-botol ini, yaaa keliatan seperti orang gak “normal”. Masih dalam perasaan
kesal, ditambah gak ada tujuan aku menghempaskan keempat botol air mineral itu
lalu menendangnya satu persatu dan keempatnya mengarah pada lelaki berpakaian
jas rapi dengan mobil mewah dan salah satunya mengenai laki-laki itu. Aku
memalingkan wajahku kebelakang agar orang itu tak mengetahui bahwa aku yang
menendangnya. Tetapi lelaki itu memanggilku, aku tidak menolehnya bahkan makin
berlari cepat, lelaki tersebut tetap mengejarku, akupun memperlambat jalanku
dan ingin minta maaf. Karna di Indonesia hal sepele bisa bikin masuk penjara.
Wkwk *ganyambung*. Aku langsung minta maaf kepada lelaki itu kira-kira umur 25
tahun, lalu lelaki itu memegang pundakku dan bertanya “Kenapa botol-botol yang
kamu kumpulkan itu kamu buang lagi? Kenapa dalam merk yang sama? Kamu pemulung?”
Tanya lelaki itu dengan raut wajah heran. Mungkin karena penampilanku yang
kelihatan bukan seperti pemulung. Belum aku menjawab semua pertanyaannya lelaki
itu mengajakku naik ke mobil mewahnya, dan aku meng-iyakannya. Lalu kami
bercerita kenapa aku bisa sampai di planet Bekasi ini hehehe.
Setelah aku
bercerita, diapun juga menceritakan dirinya. Ternyata laki-laki ini merupakan
cucu dari penggagas industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia PT.
Golden Mississippi yaitu Bapak Tirto Utomo (1930-1994). Pabrik AMDK pertama di
Bekasi dan sudah menjadi produk terkenal yaitu Aqua yang sekarang telah
bergabung dengan grup Danone yaitu AQUA. Aqua merupakan pabrik AMDK terbesar
dan terkenal di Indonesia. Banyak kegiatan kemanusiaan yang telah dilakukan,
sehingga mendapat penghargaan di Ajang Indonesia Best Brand Award.
Akhirnya, laki-laki
ini menawarkan aku untuk bekerja di perusahaannya. Aku mendapat perkerjaan yang
dikatakan layak untuk aku yang tak sengaja mengenainya saat aku menendang
botol-botol aku kosong yang aku kumpulkan.