Semantics?
Semantik adalah cabang linguistik yang meneliti arti atau makna.
Makna yang diteliti oleh semantik adalah makna bebas konteks. Makna itu ada yang bersifat leksikal dan ada yang gramatikal.
Kata
semantik berasal dari bahasa Yunani "Sema" yang artinya tanda
atau lambang (sign). Istilah tersebut digunakan oleh para pakar bahasa untuk menyebut
bagian ilmu bahasa yang mempelajari makna. Semantik (semantics) adalah cabang
linguistik yang meneliti arti atau makna. Makna yang diteliti oleh semantik itu
adalah makna bebas konteks. Makna itu ada yang bersifat leksikal dan ada yang
gramatikal.
Relasi Makna
Relasi makna dapat berwujud
macam-macam. Berikut ini diuraikan beberapa wujud relasi makna.
- Sinonim
Secara semantik Verhaar (1978)
mendefinisikan sinonimi sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau
kalimat) yang maknanuya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain. Umpamanya
kata buruk dan jelek adalah du buah kata yang bersinonim; bunga, kembang, dan
puspa adalah tiga kata yang yang bersinonim. Hubungan makna antara dua buah
kata yang bersinonim bersifat dua arah. Namun, dua buah kata yang bersinonim
itu; kesamaannya tidak seratus persen, hanya kurang lebih saja. Kesamaannya
tidak bersifat mutlak.
- Antonimi dan Oposisi
Secara semantik Verhaar (1978) mendefenisikan
antonimi sebagai: Ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi dapat pula dalam
bentuk frase atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan
lain. Misalnya kata bagus yang berantonimi dengan kata buruk;
kata besar berantonimi dengan kata kecil.
Sama halnya dengan sinonim, antonim
pun tidak bersifat mutlak. Itulah sebabnya dalam batasan di atas, Verhaar
menyatakan ”…yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain” Jadi,
hanya dianggap kebalikan. Bukan mutlak berlawanan.
Sehubungan dengan ini banyak pula
yang menyebutnya oposisi makna. Dengan istilah oposisi, maka bisa tercakup dari
konsep yang betul-betul berlawanan sampai kepada yang bersifat kontras saja.
Kata hidup dan mati, mungkin bisa menjadi contoh yang berlawanan;
tetapi hitam dan putih mungkin merupakan contoh yang hanya
berkontras.
- Homonimi, Homofoni, dan Homografi
Homonimi adalah ‘relasi makna antar
kata yang ditulis sama atau dilafalkan sama, tetapi maknanya berbeda’.
Kata-kata yang ditulis sama tetapi maknanya berbeda disebut homograf, sedangkan
yang dilafalkan sama tetapi berbeda makna disebut homofon. Contoh homograf
adalah kata tahu (makanan) yang berhomografi dengan kata tahu (paham), sedang
kata masa (waktu) berhomofoni dengan massa (jumlah besar yang menjadi satu
kesatuan).
- Hiponimi dan Hipernimi
Hiponimi adalah ‘relasi makna yang
berkaitan dengan peliputan makna spesifik dalam makna generis, seperti makna
anggrek dalam makna bunga, makna kucing dalam makna binatang’. Anggrek, mawar,
dan tulip berhiponimi dengan bunga, sedangkan kucing, kambing, dan kuda
berhiponimi dengan binatang. Bunga merupakan superordinat (hipernimi,
hiperonim) bagi anggrek, mawar, dan tulip, sedangkan binatang menjadi
superordinat bagi kucing, kambing, dan kuda.
- Polisemi
Polisemi lazim diartikan sebagai
satuan bahasa (terutama kata, bisa juga frase) yang memiliki makna lebih dari
satu. Contohnya kata "kepala" dalam bahasa Indonesia memiliki makna (1) tubuh bagian atas; (2) bagian dari suatu yang terletak disebelah atas
atau depan, yang penting atau terutama seperti pada kepala suku dan kepala rumah tangga; (3) bagian dari suatu yang
berbentuk bulat seperti kepala, seperti pada kepala paku dan kepala
jarum; (4) pemimpin atau ketua seperti pada kepala sekolah dan kepala kantor; (5) jiwa atau orang seperti dalam kalimat Setiap
kepala menerima bantuan Rp 5000,-.
- Ambigu
Ambigu
diartikan sebagai kata yang bermakna ganda atau mendua arti. Kegandaan makna
dalam ambigu berasal dari satuan gramatikal yang lebih besar, yaitu frase
atau kalimat dan terjadi sebagai akibat penafsiran struktur gramatikal yang
berbeda. Contohnya frase buku sejarah baru dapat ditafsirkan sebagai (1)
buku sejarah itu baru terbit, (2) buku itu berisi sejarah zaman baru.
- Redundansi
Istilah redundansi sering diartikan
sebagai ’berlebih-lebihan pemakaian unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran’. Contohnya kalimat Bola ditendang Si Badrih, maknanya tidak akan berubah bila
dikatakan Bola ditendang oleh Si Badrih. Pemakaian kata oleh pada kalimat kedua
dianggap sebagai sesuatu yang redundansi, yang berlebih-lebihan dan sebenarnya
tidak perlu.
http://sovasakina.blogspot.co.id/2013/06/hakikat-pengertian-semantik-bahasa.html